Jumat, 18 April 2014



The Sign of The Four merupakan novel kedua Sherlock Holmes. Di sini, masih dalam sudut penceritaan oleh Watson, diawali dengan pendalaman mengenai metode deduksi Holmes, maupun kepribadian detektif itu sendiri.
Sebut saja bagaimana sebuah kasus begitu penting untuk Sherlock Holmes, yang tampak dari kata-katanya.
“My mind rebels at stagnation.”
“I cannot live without brain-work. What else is there to live for? Stand at the window here. Was ever such a dreary, dismal, unprofitable world? See how the yellow fog swirls down the street and drifts across the duncolored houses. What could be more hopelessly prosaic and material? What is the use of having powers, doctor, when one has no field upon which to exert them? Crime is commonplace, existence is commonplace, and no qualities save those which are commonplace have any function upon earth.”
“I never remember feeling tired by work, though idleness exhausts me completely.”
Di saat seperti itulah, Watson melihat bahwa Holmes menggunakan kokain untuk menenangkan diri. Meskipun pada masa itu penggunaan kokain masih legal, tapi sebagai dokter, Watson tahu bahwa ketergantungannya kurang baik. Sebagai pengalih perhatian, Watson pun menguji kawannya itu dengan pertanyaan mengenai arloji yang dipakainya. Secara mengejutkan, Holmes berhasil mengetahui asal arloji tersebut beserta kepribadian pemilik sebelumnya.
Untunglah kekhawatiran Watson tidak berlangsung lama. Miss Mary Morstan datang dengan kasus peliknya yang membuat otak Holmes kembali punya kerjaan.

Mary Morstan mengalami kejadian aneh. Ayahnya yang berjanji untuk menemuinya, hilang tidak ada kabarnya. Enam tahun kemudian ada sebuah iklan aneh yang meminta alamat Mary dan mengirimkan sebutir mutiara yang besar dan indah kepadanya. Sejak itu, setiap tahun, Mary mendapat kiriman mutiara.
Di hari yang sama ketika dia menemui Holmes, Mary mendapat surat yang menyuruhnya untuk datang ke Teater Lyceum dan dia diijinkan untuk membawa dua orang teman. Jadilah bersama Holmes dan Watson, Mary pergi ke tempat tersebut dan di bawa ke sebuah rumah dimana seseorang yang bernama Thaddeus Sholto, seorang pria kecil yang selalu gugup, sudah menunggu.

Thaddeus Sholto menceritakan bahwa ayahnya dan ayah Mary mendapatkan harta karun dalam jumlah besar di India. Mereka bertengkar mengenai pembagian harta tersebut dan menyebabkan ayah Mary meninggal karena serangan jantung. Ayah Sholto pun menyembunyikan harta karun tersebut namun dia meninggal sebelum sempat memberitahukan di mana tempat persembunyian harta itu. Di malam dia meninggal, kamarnya digeledah oleh seseorang dan orang itu meninggalkan sepotong kertas bertuliskan ‘Tanda Empat’.

Merasa bersalah dengan Mary, Thaddeus mengirimi Mary mutiara-mutiara yang merupakan bagian kecil dari harta tersebut yang tidak disimpan ayahnya. Hingga akhirnya Bartholomew, saudara Thaddeus berhasil menemukan tempat persembunyian sisa harta tersebut.  Dan itulah sebabnya Thaddeus mengundang Mary agar Mary juga bisa mendapatkan haknya atas harta itu.

Namun, ketika mereka mendatangi rumah Bartholomew, mereka menemukan Bartholomew meninggal dalam ekspresi yang sangat ganjil. Thaddeus Sholto pun dijadikan tersangka oleh Athelney Jones, detektif setempat dengan kadar omong kosong yang sangat tinggi.

Untunglah Holmes berhasil melacak jejak pembunuh yang sebenarnya. Dengan sedikit bantuan dari Toby si anjing pencari jejak dan para gelandangan Baker Street. Melibatkan aksi kejar-kejaran dua kapal tercepat, sedikit tembakan dan satu tiupan duri beracun, Holmes dan teman-teman pun  menguak misteri dibalik ‘Tanda Empat’ dan harta karun Agra.

Yang menarik dari Sherlock Holmes adalah kecerdasannya. Dia mengobservasi sesuatu, menyingkirkan yang tidak mungkin, dan menarik kesimpulan yang paling masuk akal, dan nyaris tanpa kesalahan.

“when you have eliminated the impossible whatever remains, HOWEVER IMPROBABLE, must be the truth”


Di samping itu, seperti yang diakuinya, meski memiliki banyak cara untuk mengikuti petunjuk, dia memilih cara yang termudah, yang telah tersedia, untuk lebih menyederhanakan kasus itu sendiri.
“Do not imagine, that I depend for my success in this case upon the mere chance of one of these fellows having put his foot in the chemical. I have knowledge now which would enable me to trace them in many different ways. This, however, is the readiest and, since fortune has put it into our hands, I should be culpable if I neglected it. It has, however, prevented the case from becoming the pretty little intellectual problem which it at one time promised to be. There might have been some credit to be gained out of it, but for this too palpable clue.”

0 komentar:

Copyright © 2012 A Case of Identity | Another Theme | Designed by Johanes DJ