Jumat, 18 April 2014



Sir Arthur Ignatius Conan Doyle merupakan penulis berkebangsaan Inggris. Salah satu karyanya yang terkenal adalah tentang petualangan Sherlock Holmes, detektif fiktif yang terkenal dengan kemampuan deduksinya dan kepandaiannya dalam memecahkan berbagai kasus sulit yang tidak bisa dipecahkan polisi dan detektif lain. Novel Sherlock Holmes yang pertama kali diterbitkan pada akhir abad ke-19 masih digemari sampai sekarang. Bahkan dalam komik Detective Conan karya Aoyama Gosho, tokoh utamanya sangat mengidolakan Sherlock Holmes dan nama Conan Edogawa diambil dari nama sang pencipta novel ini.

Conan Doyle lahir pada tanggal 22 Mei 1859 di Edinburgh, Skotlandia dan meninggal pada Senin 7 Juli 1930. Sampai umur enam belas tahun Conan Doyle bersekolah di Stonyhurst sebelum belajar ilmu kedokteran di Universitas Edinburgh. Setelah membuka praktek kedokteran awalnya kehidupan Conan Doyle sangat susah karena dia hanya memiliki sangat sedikit pasien. Dia pun harus bekerja keras untuk memperoleh uang guna membiayai hidupnya. Karena memiliki banyak waktu luang ia lebih sering mengasah kemampuannya dalam menulis hingga beralih profesi dari dunia kedokteran menjadi penulis.

Selama di Edinburgh dia sangat terkesan dengan karakter salah satu guru disana, Dr. Joseph Bell. Conan Doyle mengagumi sang profesor karena kemampuannya dalam menarik kesimpulan meski tidak pernah bertemu sebelumnya. Diilhami dari dosennya tersebut maka Doyle menciptakan tokoh Sherlock Holmes.

Tokoh Sherlock Holmes diciptakannya Pada tahun 1886 dengan cerita berjudul A Study in Scarlet yang bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judulPenelusuran Benang Merah. Sherlock Holmes baru dikenal secara luas saat diterbitkan dalam sebuah cerita secara bersambung dalam Majalah Strand pada tahun 1891. Kumpulan cerita tersebut lalu dikumpulkan dalam satu buku berjudul The Adventures of Sherlock Holmes (Petualangan Sherlock Holmes).

Conan Doyle adalah seorang pria dengan banyak ide dan dia dengan segera menjadi bosan hanya karena menjadi terkenal dengan cerita tentang Sherlock Holmes. Dia menilai Tulsan-tulisannya yang lain lebih berbobot, hingga dalam satu cerita Conan Doyle mengakhiri hidup Sherlock Holmes. Namun popularitas Sherlock Holmes di kalangan pembaca memaksa Conan Doyle untuk melanjutkan kembali cerita petualangan Sherlock Holmes.

Buku lain yang ia tulis selain novel Sherlock Holmes adalah tentang sejarah, serial fiksi ilmiah tentang Professor Challenger juga artikel-artikel berdasarkan pengalaman pribadi Conan Doyle selama mengalami Perang Boer dan Perang Dunia I. Selama perang Boer yang terjadi pada tahun 1899-1902 Conan Doyle menyumbang waktunya bekerja sebagai seorang dokter tentara di Afrika Selatan dan secara resmi hasil kerjanya di Afrika Selatan itu diakui oleh pemerintah Inggris sehingga dia dianugrahi gelar “SIR”.

Setelah kematian anak laki-lakinya Conan Doyle kemudian memperdalam minatnya yang lebih mendalam dalam hal-hal spiritual. Bukunya yang ter akhir tentang sejarah spiritual yang ditulis pada tahun 1926.

BUKU-BUKU :* The Mystery of Sasassa Valley 1879
* J. Habakuk Jephson’s Statement 1883
* The Mystery of Cloomber 1889
* The Captain of the Polestar 1890
* The Firm of Girdlestone 1890
* The Doings of Raffles Haw 1891
* Beyond The City 1892
* Round the Red Lamp 1894
* The Parasite 1894
* The Stark Munro Letters 1895
* Rodney Stone 1896
* A Duet 1899
* The Great Boer War 1900
* The Adventures of Gerard 1903
* Through the Magic Door 1907
* The New Revelation 1918
* The Vital Message 1919
* Tales of Terror and Mystery 1923
* A Visit to Three Fronts 1916
* The Exploits of Brigadier Gerard 1896
* The Green Flag 1900
* The Last Galley 1911
* The Tragedy of The Korosko 1898
* The History of Spiritualism Vol I 1926
* The History of Spiritualism Vol II 1926

KOLEKSI PUISI :
* Songs of Action 1898
* Songs of the Road 1911
* The Guards Came Through 1919
* The Poems of Arthur Conan Doyle. Collected edition 1922

NOVEL SEJARAH :
* Micah Clarke 1889
* The White Company 1891
* The Great Shadow and Other Napoleonic Tales 1892
* The Refugees 1893
* Uncle Bernac 1896
* Sir Nigel 1906

Professor Challenger:
* The Lost World 1912
* The Poison Belt 1913
* The Land of Mist 1926
* The Disintegration Machine 1927
* When the World Screamed 1928

NOVEL DETEKTIF SHERLOCK HOLMES :
Sherlock Holmes – A Study in Scarlet 1887
Sherlock Holmes – The Sign of the Four 1890 
The Adventures of Sherlock Holmes 1892
Memoirs of Sherlock Holmes 1894
Sherlock Holmes – The Hound of the Baskervilles 1902
The Return of Sherlock Holmes 1904
Sherlock Holmes – The Valley of Fear 1904
His Last Bow 1917
The Case Book of Sherlock Holmes 1927
Read More....



The Sign of The Four merupakan novel kedua Sherlock Holmes. Di sini, masih dalam sudut penceritaan oleh Watson, diawali dengan pendalaman mengenai metode deduksi Holmes, maupun kepribadian detektif itu sendiri.
Sebut saja bagaimana sebuah kasus begitu penting untuk Sherlock Holmes, yang tampak dari kata-katanya.
“My mind rebels at stagnation.”
“I cannot live without brain-work. What else is there to live for? Stand at the window here. Was ever such a dreary, dismal, unprofitable world? See how the yellow fog swirls down the street and drifts across the duncolored houses. What could be more hopelessly prosaic and material? What is the use of having powers, doctor, when one has no field upon which to exert them? Crime is commonplace, existence is commonplace, and no qualities save those which are commonplace have any function upon earth.”
“I never remember feeling tired by work, though idleness exhausts me completely.”
Di saat seperti itulah, Watson melihat bahwa Holmes menggunakan kokain untuk menenangkan diri. Meskipun pada masa itu penggunaan kokain masih legal, tapi sebagai dokter, Watson tahu bahwa ketergantungannya kurang baik. Sebagai pengalih perhatian, Watson pun menguji kawannya itu dengan pertanyaan mengenai arloji yang dipakainya. Secara mengejutkan, Holmes berhasil mengetahui asal arloji tersebut beserta kepribadian pemilik sebelumnya.
Untunglah kekhawatiran Watson tidak berlangsung lama. Miss Mary Morstan datang dengan kasus peliknya yang membuat otak Holmes kembali punya kerjaan.

Mary Morstan mengalami kejadian aneh. Ayahnya yang berjanji untuk menemuinya, hilang tidak ada kabarnya. Enam tahun kemudian ada sebuah iklan aneh yang meminta alamat Mary dan mengirimkan sebutir mutiara yang besar dan indah kepadanya. Sejak itu, setiap tahun, Mary mendapat kiriman mutiara.
Di hari yang sama ketika dia menemui Holmes, Mary mendapat surat yang menyuruhnya untuk datang ke Teater Lyceum dan dia diijinkan untuk membawa dua orang teman. Jadilah bersama Holmes dan Watson, Mary pergi ke tempat tersebut dan di bawa ke sebuah rumah dimana seseorang yang bernama Thaddeus Sholto, seorang pria kecil yang selalu gugup, sudah menunggu.

Thaddeus Sholto menceritakan bahwa ayahnya dan ayah Mary mendapatkan harta karun dalam jumlah besar di India. Mereka bertengkar mengenai pembagian harta tersebut dan menyebabkan ayah Mary meninggal karena serangan jantung. Ayah Sholto pun menyembunyikan harta karun tersebut namun dia meninggal sebelum sempat memberitahukan di mana tempat persembunyian harta itu. Di malam dia meninggal, kamarnya digeledah oleh seseorang dan orang itu meninggalkan sepotong kertas bertuliskan ‘Tanda Empat’.

Merasa bersalah dengan Mary, Thaddeus mengirimi Mary mutiara-mutiara yang merupakan bagian kecil dari harta tersebut yang tidak disimpan ayahnya. Hingga akhirnya Bartholomew, saudara Thaddeus berhasil menemukan tempat persembunyian sisa harta tersebut.  Dan itulah sebabnya Thaddeus mengundang Mary agar Mary juga bisa mendapatkan haknya atas harta itu.

Namun, ketika mereka mendatangi rumah Bartholomew, mereka menemukan Bartholomew meninggal dalam ekspresi yang sangat ganjil. Thaddeus Sholto pun dijadikan tersangka oleh Athelney Jones, detektif setempat dengan kadar omong kosong yang sangat tinggi.

Untunglah Holmes berhasil melacak jejak pembunuh yang sebenarnya. Dengan sedikit bantuan dari Toby si anjing pencari jejak dan para gelandangan Baker Street. Melibatkan aksi kejar-kejaran dua kapal tercepat, sedikit tembakan dan satu tiupan duri beracun, Holmes dan teman-teman pun  menguak misteri dibalik ‘Tanda Empat’ dan harta karun Agra.

Yang menarik dari Sherlock Holmes adalah kecerdasannya. Dia mengobservasi sesuatu, menyingkirkan yang tidak mungkin, dan menarik kesimpulan yang paling masuk akal, dan nyaris tanpa kesalahan.

“when you have eliminated the impossible whatever remains, HOWEVER IMPROBABLE, must be the truth”


Di samping itu, seperti yang diakuinya, meski memiliki banyak cara untuk mengikuti petunjuk, dia memilih cara yang termudah, yang telah tersedia, untuk lebih menyederhanakan kasus itu sendiri.
“Do not imagine, that I depend for my success in this case upon the mere chance of one of these fellows having put his foot in the chemical. I have knowledge now which would enable me to trace them in many different ways. This, however, is the readiest and, since fortune has put it into our hands, I should be culpable if I neglected it. It has, however, prevented the case from becoming the pretty little intellectual problem which it at one time promised to be. There might have been some credit to be gained out of it, but for this too palpable clue.”
Read More....


Inilah petualangan pertama Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Berawal dari sebuah apartemen kecil di Baker Street, mereka kedatangan seorang klien untuk mengungkap kasus pembunuhan misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan.

Sherlock Holmes dengan sigap mencoba mengurai semuanya. Melacak jejak pelaku, bukti-bukti yang ada di sekitar kejadian, juga motif pembunuhan.  Bagaimana cara sang detektif ulung ini melakukan pekerjaannya? Juga apa reaksi Dokter Watson saat mengikuti Sherlock di kasus pertama ini?


Bermula dari pertemuan pertama Dr. Watson dengan Sherlock Holmes, seorang detektif konsultan. Mereka berdua tinggal di 221B Baker Street London. Petualangan bermula ketika Sherlock Holmes mendapat surat tentang adanya kasus pembunuhan di rumah kosong di Brixton Road dari Inspektur Gregson, polisi dari Scotland Yard. Sherlock dan Watson lalu pergi ke Brixton Road untuk penyelidikan langsung di TKP.

Korban bernama Enoch J. Drebber dari Cleveland. Dia datang bersama Mr. Joseph Stangerson namun ia tak ada di TKP. Namun ada yang aneh dalam kasus ini. tidak ditemui tanda-tanda kekerasan pada korban. Serta dituliskannya kata RACHE dalam darah. Sebuah kasus menarik dan unik merupakan salah satu penyebab Sherlock Holmes menjadi semangat dalam mengungkap kasus. Semakin aneh kasusnya, semakin bagus menurutnya.

Inspektur Gregson dan Lestrade dari Scotland Yard yakin bahwa tulisan Rache tersebut ditulis korban. Korban sebenarnya ingin menulis Rachel. Tapi ajal keburu menjemputnya sehingga ia tak mampu menyelesaikan tulisannya. Tapi setelah Holmes melakukan sendiri penyelidikan, ia mengungkapkan deskripsi pelaku dengan gamblang. Ia juga mengatakan bahwa tidak perlu mencari Rachel karena Rache itu sendiri adalah bahasa Jerman untuk "Balas Dendam". Dan juga ditemukan sebuah cincin saat mayat diangkat karena cincin tersebut terjatuh dari tubuh korban.

Holmes dan Watson lalu meninggalkan TKP. Mereka lalu menuju ke rumah John Rance, polisi yang bertugas pada saat kejadian. Ia mengatakan pada saat sekitar terjadinya pembunuhan, ia bertemu seorang yang mabuk. Holmes meyakini bahwa orang mabuk itulah pelakunya. Ia pura-pura mabuk agar tak dicurigai.

Holmes telah memasang iklan di koran tentang ditemukannya sebuah cincin. Seseorang datang ke Baker Street dan meminta cincin itu kembali. Holmes lalu mengembalikannya dan mengikuti orang itu. Ia naik sebuah kereta kuda. Holmes mengikutinya dengan naik di belakang kereta. Tapi setelah sampai di tujuan orang tersebut menghilang.

Keesokan harinya kasus tersebut bertambah rumit dengan datangnya Lestrade membawa berita tentang terbunuhnya Mr. Stangerson. Tapi bagi Sherlock ini malah merupakan secercah titik cerah pada kasus ini. Terdapat pula tulisaan  RACHE yang ditulis dalam darah. Holmes juga telah menduganya. Di sana ditemukan pula dua buah pil yang mirip. Setelah dicoba, satu pil ternayata berisi racun dan satunya tidak.

Dia telah melakukan pencarian dengan bantuan anak-anak jalanan London. Mereka datang ke 221B Baker Street dan memanggil sebuah kereta bersama kusirnya. Tentu saja Gregson dan Lestrade heran dan mengira Holmes malah akan kabur. Tetapi ternyata, kusir tersebutlah pelakunya.


Ketika pembunuh itu akhirnya tertangkap, maka dimulailah bagian cerita kedua tentang masa lalu sang pembunuh dan bagaimana ia bisa melakukan pembunuhan itu. Bagian kedua ini agak berbeda dari seri-seri Sherlock Holmes yang lain—yang dikisahkan oleh Watson ataupun oleh Holmes sendiri. A Study in Scarlet memiliki dua cerita dan dua penceritaan, satu dikisahkan melalui sudut pandang Watson sementara satunya lagi oleh sudut pandang orang ketiga. Kedua cerita ini akhirnya akan saling bertemu di belakang, menyajikan sebuah kasus pelik namun canggih yang akhirnya bisa diungkap oleh Sherlock Holmes.

            Membaca serial Sherlock Holmes ibarat candu yang memabukkan bagi pembacaranya. Tidak heran jika detektif nyentrik rekaan Conan Doyle ini segera merebut perhatian dunia. Cara dan perilaku Holmes yang nyentrik dalam memecahkan kasus, serta sudut pandangnya yang berbeda dari orang kebanyakan merupakan contoh dari otak yang “out of the box”. Kemampuannya berdeduksi serta kelihaiannya dalam melihat apa  yang luput dilihat dari orang lain telah mengajarkan kepada pembaca tentang bagaimana menjadi detektif yang tidak mudah tertipu dengan bukti-bukti palsu. Karakter khas pengamatan Holmes pun cukup unik, ia memulai menceritakan pengungkapan kasusnya dari belakang. Jadi, sang penjahat tertangkap dan baru setelah itu ia menceritakan bagaimana asal-muasal serta alur kejahatan yang dilakukan oleh si pelaku.

Dari Holmes pula kita belajar banyak tentang bagaimana berpikir secara kreatif dan berbeda dari orang kebanyakan (out of the box), bagaimana melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, bagaimana berfokus pada satu hal yang benar-benar kita butuhkan alih-alih mencoba menguasai hal-hal remeh yang kurang kita butuhkan, dan bagaimana menjadi diri sendiri dengan segala keunikan dan keluarbiasaannya.
Read More....

Jack The Ripper

Posted by : Rie
0 komentar

Jack The Ripper. Siapa yang tak mengenal pelaku pembunuhan itu? atau memang ada yang belum pernah mendengarnya? baiklah, akan saya perkenalkan siapa Jack The Ripper itu.

Jack The Ripper adalah julukan paling terkenal yang diberikan kepada pembunuh berantai tak dikenal yang aktif di kawasan miskin di sekitar distrik WhitechapelLondon, pada tahun 1888. Nama Jack The Ripper tertulis dalam sebuah surat yang dikirimkan ke London Badan Pusat Berita oleh seseorang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Jack The Ripper digambarkan dengan sosok yang berjubah hitam yang mengincar korbannya dalam kabut serta mencabut nyawa korban dengan cepat dan meninggalkan korban dengan pesan di dinding dekat lokasi pembunuhan. Dan tidak pernah ketahuan siapa pelakunya (seperti mistik bukan?)



Pada Tahun 1988 di bagian timur kota London, terjadi pembunuhan berantai terhadap 5 orang pelacur. Para korban dibunuh dengan cara dicekik, lalu dibaringkan, dan dipotong pembuluh arteri mereka tepat di ditenggorokannya, lalu diikuti dengan berbagai macam proses pemotongan, tergantung bagian tubuh mana yang akan dibuang dan ditinggalkan oleh si pelaku.

Sebenarnya, target pembunuh yang kerap juga dijuluki “Pembunuh Whitechapel” ini hanyalah lima orang pelacur, walaupun ada pendapat yang mengatakan jumlahnya bisa lebih daripada itu. Dan semua kegiatannya itu ia lakukan hanya dalam jangka waktu 3 bulan saja. Tapi, bagaimanapun juga kekejaman dan misteri pembunuhnya menjadikan kasus pembunuhan berantai ini sangat popular hingga saat ini.

Pada saat kasus itu muncul, sebenarnya nama Jack The Ripper bahkan belum ada. Namun media dan kepolisian banyak menerima surat. Ada yang mencoba memberi saran, ada yang mencoba memberi tahu identitas pelaku dan sebagainya. Sampai suatu hari ada surat yang berasal dari seseorang yang mengaku sebagai pelaku dari semua rentetan kasus pembunuhan sadis itu. Dan di bawahnya tertulis nama Jack The Ripper.

Awalnya surat tersebut tidak diperhatikan, karena memang banyak surat seperti itu sebelumnya. Namun tak lama kemudian muncul lagi satu surat yang dianggap dari orang yang sama dan dibawahnya juga tertulis nama Jack The Ripper. Sejak saat itu, polisi dan masyarakat menyebut pelaku kasus itu dengan nama Jack The Ripper. Salah satu kalimat dalam surat itu adalah “They say I’m a doctor…hahahaha….”.

surat  Jack The Ripper

surat  Jack The Ripper

Segala misteri itu bermula pada tanggal 31 Agustus 1888. Sekitar pukul 4.00 dini hari waktu setempat, seorang penduduk menemui mangsa pertama sang “devil” yaitu Mary Ann Nichols, 42, di Whitechapel, East End. Mayat wanita malang itu ditemukan oleh seorang penduduk setempat dalam keadaan tewas mengenaskan. Bahkan beberapa polisi yang datang ke TKP juga cukup tekejut ketika melihat kondisi mayat. Dokter yang memeriksa mayat tersebut mendapati sebagian tubuhnya masih panas, ini menunjukkan mungkin wanita ini dibunuh kurang lebih sekitar setengah jam sebelum jasad-nya ditemukan. Terdapat kesan sayatan benda runcing pada rahang kiri korban, selain itu diperkirakan perutnya juga dibelah menggunakan pisau panjang bergerigi, serta terdapat banyak luka tikaman pada beberapa bagian tubuh yang lain. Polisi tidak banyak memiliki petunjuk mengenai kasus pembunuhan ini, kerana tidak ada saksi yang melihat atau mendengar suara teriakan korban pada malam kejadian. Selain itu tidak ditemui juga ada-nya senjata tajam yang ditinggalkan sang pelaku di TKP.

Pada 6 Agustus 1888 sebelum kasus pembunuhan Mary, seorang pelacur lainnya, Martha Tabram, 39, ditemui tewas di George Yard dengan luka tikaman benda tajam sebanyak 39 kali pada leher dan bagian kemaluan. Dari hasil autopsi terhadap jasad wanita itu, didapati leher sang korban turut digorok dan perutnya dibelah. Beberapa pihak berpendapat, pembunuhan Martha merupakan salah satu “hasil karya” Jack The Ripper. Sehingga banyak spekulasi mengatakan bahwa Martha merupakan korban pertama dari rentetan kasus pembunuhan berantai ini.

Delapan hari selepas kematian Mary, penduduk Whitechapel kembali digemparkan oleh penemuan sesosok mayat wanita. Kali ini menimpa seorang pelacur, Annie Chapman, ia juga ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan. Ahli bedah forensik mengatakan bahwa Annie tewas dua jam sebelum jasadnya ditemukan. Mereka juga mendapati sebagian kulit perut Annie dibedah, tulang rusuknya dipotong-potong, isi perut dan organ-organ seperti jantung dikeluarkan dan diletakkan di bahu sang korban. Dan lebih parahnya lagi, sebagian kemaluannya juga dipotong!! Beberapa saksi mengatakan melihat Annie sedang bercengkrama dengan seorang lelaki yang memiliki ciri-ciri berkulit gelap, memakai topi pemburu rusa dan berjubah hitam pada jam 5.30 pagi. Keterangan para saksi yang turut merujuk kepada “orang asing”, membuat polisi menyimpulkan pembunuh adalah pendatang Yahudi dan menimbulkan sentimen di kalangan penduduk pribumi. Seorang Yahudi, John Pizer yang turut dikenali “Apron Kulit” ditahan, namun ahirnya ia dibebaskan karena ia tak terbukti bersalah dan tidak terkait dengan kasus pembunuhan tersebut.

Mangsa ketiga dan keempat Jack the Ripper ditemukan pada hari yang sama yaitu 30 September 1988. Kali ini korbannya adalah Elizabeth Stride, berusia 45 tahun. Ia ditemui tewas berlumuran darah di Dutfield Yard kira-kira pukul 1.00 pagi dengan bekas cekikan dileher dan disinyalir ia mati kurang lebih 30 menit sebelum jasadnya ditemukan.

Malam itu ternyata belum berakhir bagi Jack. Pada malam itu pula, polisi sekali lagi dikejutkan dengan penemuan mayat yang juga ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan , kira-kira 1.6 kilometer dari lokasi penemuan mayat Elizabeth. Korban kedua di hari itu adalah Catherine Eddowes, 46 tahun. Ia juga (Catherine) ditemukan dalam keadaan tewas berlumuran darah, ada bekas cekikan di lehernya, tubuhnya dibelah dari dada sampai selangkangan dan isi perutnya terburai keluar. Tidak ketinggalan rahimnya juga ikut dipotong dan dikeluarkan, mukanya hancur karena dikuliti, kelopak mata kanannya dicungkil, hidung dan telinganya hampir putus. Korban tewas kurang 30 menit sebelum ditemukan.

Di TKP , Polisi menemukan sehelai syal/selendang milik sang korban yang berlumuran darah dan didekat-nya terdapat tulisan kapur pada dinding yang berbunyi:

“The Juwes are The men That Will not be Blamed For nothing” (Yahudi adalah pihak yang tidak akan bisa disalahkan tanpa sebab).

Sedangkan korban kelima diketahui bernama Mary Jane Kelly. “Ginger”, nama panggilan M.J.Kelly, juga ditemukan dengan kondisi yang sama mengerikannya dengan korban-korban lainnya. Jasadnya ditemukan pada 9 September 1988, dikamar sewaannya yang berlokasi di Miller’s Court, off Dorset Street, Spitalfields.
Read More....

Novel:
1. A Study in Scarlet (diterbitkan 1887, Beeton's Christmas Annual)
2. The Sign of the Four (diterbitkan 1890, Lippincott's Monthly Magazine)
3. The Hound of the Baskervilles (diterbitkan sebagai cerita bersambung, 1901–1902, The Strand)
4. The Valley of Fear (diterbitkan sebagai cerita bersambung, 1914–1915, The Strand)
Cerita Pendek: 
1. The Adventures of Sherlock Holmes (berisi kasus-kasus yang diterbitkan 1891–1892, dalam The Strand)
    a. A Scandal in Bohemia
    b. The Red-Headed League
    c. A Case of Identity d. The Boscombe Valley Mystery
    e. The Five Orange Pips
    f. The Man with the Twisted Lip
    g. The Adventure of the Blue Carbuncle
    h. The Adventure of the Speckled Band
    i. The Adventure of the Engineer's Thumb
    j. The Adventure of the Noble Bachelor
    k. The Adventure of the Beryl Coronet
    l. The Adventure of the Copper Beeches 

2. The Memoirs of Sherlock Holmes (berisi kasus-kasus yang diterbitkan 1892–1893 dalam The Strand sebagai episode lanjutan buku The Adventures)
    a. Silver Blaze
    b. The Adventure of the Cardboard Box
    c. The Adventure of the Yellow Face
    d. The Stockbroker's Clerk e. The Gloria Scott
    f. The Musgrave Ritual
    g. The Adventure of the Reigate Squire
    h. The Adventure of the Crooked Man
    i. The Resident Patient
    j. The Greek Interpreter k. The Naval Treaty
    l. The Final Problem

3. The Return of Sherlock Holmes (berisi kasus-kasus yang diterbitkan 1903– 1904 dalam The Strand)
    a. The Adventure of the Empty House 
    b. The Adventure of the Norwood Builder
    c. The Adventure of the Dancing Men
    d. The Adventure of the Solitary Cyclist
    e. The Adventure of the Priory School
    f. The Adventure of Black Peter
    g. The Adventure of Charles Augustus Milverton
    h. The Adventure of the Six Napoleons
    i. The Adventure of the Three Students
    j. The Adventure of the Golden Pince-Nez
    k. The Adventure of the Missing Three- Quarter 
    l. The Adventure of the Abbey Grange
    m. The Adventure of the Second Stain 

4. His Last Bow (berisi kasus-kasus yang diterbitkan pada 1908–1913 and 1917)
    a. The Adventure of Wisteria Lodge
    b. The Adventure of the Cardboard Box 
    c. The Adventure of the Red Circle
    d. The Adventure of the Bruce-Partington Plans
    e. The Adventure of the Dying Detective
    f. The Disappearance of Lady Frances Carfax 
    g. The Adventure of the Devil's Foot
    h. His Last Bow

5. The Case-Book of Sherlock Holmes (berisi kasus-kasus yang diterbitkan pada 1921–1927)
    a. The Adventure of the Illustrious Client 
    b. The Adventure of the Blanched Soldier
    c. The Adventure of the Mazarin Stone
    d. The Adventure of the Three Gables
    e. The Adventure of the Sussex Vampire
    f. The Adventure of the Three Garridebs
    g. The Problem of Thor Bridge 
    h. The Adventure of the Creeping Man
    i. The Adventure of the Lion's Mane
    j. The Adventure of the Veiled Lodger
    k. The Adventure of Shoscombe Old Place
    l. The Adventure of the Retired Colourman 

Kasus Holmes dalam Film

- Nothing Escapes Him
- Has Finally Met His Match
Read More....

Siapa yang tidak kenal Sherlock Holmes, karakter fiktif paling tersohor dari ranah sastra Inggris? Inilah konsultan detektif paling terkenal di dunia, yang berhasil tercatat dalam Guinness World of Records sebagai “karakter yang paling banyak dimainkan di film,” dengan total 75 aktor yang pernah memerankannya!

“Nama saya adalah Sherlock Holmes. Mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui adalah urusan saya.”


itu adalah salah satu kutipan Sherlock Holmes yang paling saya suka hehe.


oke sekarang kita mulai mendalami siapa sih sherlock holmes itu? Dan kenapa ada karakter fiktif yang bernama Sherlock Holmes?


Sherlock Holmes adalah buah karya penulis Skotlandia, Sir Arthur Conan Doyle, yang menciptakan profesi konsultan detektif pertama di dunia. Detektif yang satu ini dikenal jenius, logis, jago menyamar, pengamat yang hebat, dan ahli penyimpulan deduktif, yang berarti menarik kesimpulan umum dari hal-hal kecil. Menurut pengakuan Doyle, karakter tersebut terinspirasi dari Dr. Joseph Bell, dosennya saat kuliah kedokteran. Total, kisah Sherlock Holmes ditulis dalam bentuk empat novel, yaitu A Study in Scarlet, The Sign of The Four, The Hound os the Baskervilles, dan The Valley of Fear, serta 56 cerita pendek yang diterbitkan dalam lima antologi, yaitu The Adventures of Sherlock Holmes, The Memoirs of Sherlock Holmes, The Return of Sherlock Holmes, His Last Bow, dan The Case-Book of Sherlock Holmes.



Kemunculan Sherlock Holmes pertama kali adalah pada tahun 1887 dalam novel A Study in Scarlet. Ketika itu, usia Doyle baru 28 tahun, dan karyanya tersebut dipandang para kritikus sebagai karya latihan, karena struktur dan gaya tulisannya yang belum stabil. Namun novel ini tetap menjadi karya sastra paling berpengaruh dari abad ke-19. Sebelumnya, naskah novel tersebut sempat ditolak sejumlah penerbit. Baru setelah Ward Lock menerbitkannya, respons publik menggiring Doyle untuk terus menghasilkan kisah Sherlock Holmes. Pada 1891, Doyle memulai kerjasama dengan majalah Strand, yang menerbitkan cerpen tentang Sherlock Holmes selama 25 tahun!
Sebagian besar kisah Sherlock Holmes dituturkan oleh Dr. John H. Watson. Pertemuan mereka terjadi pada 1881, ketika Dr. Watson, yang harus pensiun dini dari militer karena cedera, harus mencari tempat tinggal di London. Dr. Watson berpapasan dengan teman lamanya, Stamford, yang lantas, memperkenalkannya kepada Sherlock Holmes, yang juga sedang mencari teman untuk berbagi sewa apartemen. Tak lama, Sherlock Holmes dan Dr. Watson sepakat menjadi teman seapartemen. Sejak itu pula, Watson menjadi partner Sherlock Holmes dalam memecahkan kasus-kasus yang datang ke tempat praktik mereka : 221B Baker Street.
Watson memiliki dua peran unik dalam hidup Sherlock Holmes, yang digambarkan sebagai penyendiri yang tak punya teman. Pertama adalah sebagai asisten dalam menyelidiki kasus. Kedua, sebagai dokumenter dari kasus-kasus mereka. Pertemanannya dengan Watson adalah hubungan terpenting yang Sherlock Holmes miliki. Dibalik karakternya yang dingin Sherlock Holmes sangat menyayangi sahabatnya itu.
Watson sendiri menggambarkan Sherlock Holmes sebagai pria cerdas yang bohemian. Artinya, meski metode penyelidikan maupun berpikir Sherlock Holmes sangat rapi dan cemerlang, secara pribadi ia eksentrik dan berantakan. Sherlock Holmes juga gemar membuat bingung para polisi yang sulit mengikuti kejeniusannya. Karena itu, Sherlock Holmes kerap dicap arogan, dan menganggap pemecahan kasus sebagai permainan ketimbang aksi menegakkan keadilan.
Oke itulah asal muasal Sherlock Holmes muncul. Setelah saya membahas kemunculan Sherlock Holmes rasanya kurang kalau tidak membahas pencipta Sherlock Holmes. Seperti kacang lupa kulitnya mungkin hahaha ^^ Oke inilah dia jengjeng Arthur Ignatius Conan Doyle /Clap/
Arthur Ignatius Conan Doyle lahir pada 22 Mei 1859, di Edinburgh, Skotlandia, dari keturunan Irlandia. Ayahnya, Charles Altamont Doyle, adalah alkoholik. Keluarga mereka hidup miskin dan tidak terlalu bahagia.
Ketika Doyle berusia 9 tahun, kerabat yang kaya-raya membiayai sekolahnya. Doyle pun belajar di sekolah asrama selama 7 tahun. Jiwanya yang bebas dan cenderung pemberontak tidak menyukai sistem sekolah yang kaku. Untuk menghibur diri, ia mengarang cerita. Banyak teman sekolahnya yang suka mendengarkan cerita-cerita karya Doyle.
Pada 1876 Doyle lulus, namun sang ayah malah masuk rumah sakit jiwa. Doyle pun memutuskan untuk masuk jurusan kedokteran di University of Edinburgh. Di tengah-tengah studi, ia menyempatkan menulis cerpen dan mengirimkannya ke sejumlah media. Doyle berusia 20 tahun ketika ditawari menjadi dokter di kapal Hope yang menuju Kutub Utara. Dalam perjalanan inilah jiwa petualangan Doyle terasah.
Setelah kembali ke Inggris dan lulus sebagai dokter, Doyle membuka praktik di Portsmouth. Perlahan tapi pasti, karier sang dokter muda menanjak. Ia juga mulai membangun keluarga bersama Louisa Hawkins, yang dinikahinya pada 1885. Namun bukan berarti hasratnya untuk menjadi seorang penulis terlupakan begitu saja.
Pada Maret 1886, Doyle mulai menulis novel yang akan melejitkan namanya. Dua tahun kemudian, novel tesebut, A Study in Scarlet, terbit, dan dunia mengenal Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Lalu kemudian Sherlock Holmes menjadi legenda dan Doyle pun meninggalkan karier sebagai dokter untuk sepenuhnya berkonsentrasi sebagai penulis.
Tapi tahukah kalian? Conan Doyle ini pernah merasa jenuh sama Sherlock Holmes dan mencoba 'membunuh' Sherlock Holmes loh. Dalam cerpen The Final Problem yang terbit pada 1893, Doyle mempertemukan Sherlock Holmes dengan musuh bebuyutannya, Profesor James Moriarty (Karakter Favorit saya xD ), konsultan kriminal. Di klimaks cerita, mereka berhadapan di Reichenbach Falls, tempat wisata lokal di Swiss, dan bertarung sampai jatuh bersama ke dalam jurang.
Public gempar! Sebanyak 20.000 pembaca membatalkan langganan mereka terhadap majalah Strand untuk menunjukkan protes atas kematian konsultan detektif kesayangan mereka. Akhirnya dengan desakan dari penerbit, Doyle kembali menghidupkan tokohnya dalam The Hound of the Baskervilles. Sejak itu, Doyle kembali menulis tentang Sherlock Holmes selama 24 tahun berikutnya.
Pada Juli 1930, sang pengarang besar ditemukan terjatuh di halaman rumahnya di East Sussex, dengan satu tangan mencengkeram dada kiri. Ia menghembuskan napas terakhir dikelilingi keluarganya, dengan kata-kata terakhir yang ditujukan untuk sang istri, “Engkau Sungguh Indah”. Kata-kata yang juga mencerminkan perjalanan hidup sang pencipta Sherlock Holmes.
Yah berakhir deh kisah sherlock Holmes huhu /cry/
Tenang-tenang nanti saya akan menggantikan Sir  Arthur Ignatius Conan Doyle untuk melanjutkan kisah Sherlock Holmes hehehe /kick/
Oke daripada saya mulai bermimpi yang terlalu tinggi, saya pergi sajalah -.- Jangan lupa baca entri yang lain juga ya di blog saya ^^
Read More....

Copyright © 2012 A Case of Identity | Another Theme | Designed by Johanes DJ