Jumat, 18 April 2014


Inilah petualangan pertama Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Berawal dari sebuah apartemen kecil di Baker Street, mereka kedatangan seorang klien untuk mengungkap kasus pembunuhan misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan.

Sherlock Holmes dengan sigap mencoba mengurai semuanya. Melacak jejak pelaku, bukti-bukti yang ada di sekitar kejadian, juga motif pembunuhan.  Bagaimana cara sang detektif ulung ini melakukan pekerjaannya? Juga apa reaksi Dokter Watson saat mengikuti Sherlock di kasus pertama ini?


Bermula dari pertemuan pertama Dr. Watson dengan Sherlock Holmes, seorang detektif konsultan. Mereka berdua tinggal di 221B Baker Street London. Petualangan bermula ketika Sherlock Holmes mendapat surat tentang adanya kasus pembunuhan di rumah kosong di Brixton Road dari Inspektur Gregson, polisi dari Scotland Yard. Sherlock dan Watson lalu pergi ke Brixton Road untuk penyelidikan langsung di TKP.

Korban bernama Enoch J. Drebber dari Cleveland. Dia datang bersama Mr. Joseph Stangerson namun ia tak ada di TKP. Namun ada yang aneh dalam kasus ini. tidak ditemui tanda-tanda kekerasan pada korban. Serta dituliskannya kata RACHE dalam darah. Sebuah kasus menarik dan unik merupakan salah satu penyebab Sherlock Holmes menjadi semangat dalam mengungkap kasus. Semakin aneh kasusnya, semakin bagus menurutnya.

Inspektur Gregson dan Lestrade dari Scotland Yard yakin bahwa tulisan Rache tersebut ditulis korban. Korban sebenarnya ingin menulis Rachel. Tapi ajal keburu menjemputnya sehingga ia tak mampu menyelesaikan tulisannya. Tapi setelah Holmes melakukan sendiri penyelidikan, ia mengungkapkan deskripsi pelaku dengan gamblang. Ia juga mengatakan bahwa tidak perlu mencari Rachel karena Rache itu sendiri adalah bahasa Jerman untuk "Balas Dendam". Dan juga ditemukan sebuah cincin saat mayat diangkat karena cincin tersebut terjatuh dari tubuh korban.

Holmes dan Watson lalu meninggalkan TKP. Mereka lalu menuju ke rumah John Rance, polisi yang bertugas pada saat kejadian. Ia mengatakan pada saat sekitar terjadinya pembunuhan, ia bertemu seorang yang mabuk. Holmes meyakini bahwa orang mabuk itulah pelakunya. Ia pura-pura mabuk agar tak dicurigai.

Holmes telah memasang iklan di koran tentang ditemukannya sebuah cincin. Seseorang datang ke Baker Street dan meminta cincin itu kembali. Holmes lalu mengembalikannya dan mengikuti orang itu. Ia naik sebuah kereta kuda. Holmes mengikutinya dengan naik di belakang kereta. Tapi setelah sampai di tujuan orang tersebut menghilang.

Keesokan harinya kasus tersebut bertambah rumit dengan datangnya Lestrade membawa berita tentang terbunuhnya Mr. Stangerson. Tapi bagi Sherlock ini malah merupakan secercah titik cerah pada kasus ini. Terdapat pula tulisaan  RACHE yang ditulis dalam darah. Holmes juga telah menduganya. Di sana ditemukan pula dua buah pil yang mirip. Setelah dicoba, satu pil ternayata berisi racun dan satunya tidak.

Dia telah melakukan pencarian dengan bantuan anak-anak jalanan London. Mereka datang ke 221B Baker Street dan memanggil sebuah kereta bersama kusirnya. Tentu saja Gregson dan Lestrade heran dan mengira Holmes malah akan kabur. Tetapi ternyata, kusir tersebutlah pelakunya.


Ketika pembunuh itu akhirnya tertangkap, maka dimulailah bagian cerita kedua tentang masa lalu sang pembunuh dan bagaimana ia bisa melakukan pembunuhan itu. Bagian kedua ini agak berbeda dari seri-seri Sherlock Holmes yang lain—yang dikisahkan oleh Watson ataupun oleh Holmes sendiri. A Study in Scarlet memiliki dua cerita dan dua penceritaan, satu dikisahkan melalui sudut pandang Watson sementara satunya lagi oleh sudut pandang orang ketiga. Kedua cerita ini akhirnya akan saling bertemu di belakang, menyajikan sebuah kasus pelik namun canggih yang akhirnya bisa diungkap oleh Sherlock Holmes.

            Membaca serial Sherlock Holmes ibarat candu yang memabukkan bagi pembacaranya. Tidak heran jika detektif nyentrik rekaan Conan Doyle ini segera merebut perhatian dunia. Cara dan perilaku Holmes yang nyentrik dalam memecahkan kasus, serta sudut pandangnya yang berbeda dari orang kebanyakan merupakan contoh dari otak yang “out of the box”. Kemampuannya berdeduksi serta kelihaiannya dalam melihat apa  yang luput dilihat dari orang lain telah mengajarkan kepada pembaca tentang bagaimana menjadi detektif yang tidak mudah tertipu dengan bukti-bukti palsu. Karakter khas pengamatan Holmes pun cukup unik, ia memulai menceritakan pengungkapan kasusnya dari belakang. Jadi, sang penjahat tertangkap dan baru setelah itu ia menceritakan bagaimana asal-muasal serta alur kejahatan yang dilakukan oleh si pelaku.

Dari Holmes pula kita belajar banyak tentang bagaimana berpikir secara kreatif dan berbeda dari orang kebanyakan (out of the box), bagaimana melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, bagaimana berfokus pada satu hal yang benar-benar kita butuhkan alih-alih mencoba menguasai hal-hal remeh yang kurang kita butuhkan, dan bagaimana menjadi diri sendiri dengan segala keunikan dan keluarbiasaannya.

0 komentar:

Copyright © 2012 A Case of Identity | Another Theme | Designed by Johanes DJ